Rabu, 24 Desember 2014

Chebonk vs Chodox Pakai FU yg Sama, Siapa Pemenangnya?




Speed_ID. Minggu 21 Desember 2014 Bertempat di jalan Bumi Patra Indramayu Jawa Barat, mempertontonkan pertarungan sengit antara Alvan Chebonk dan Eko Sulistyo Chodox. Sebenarnya sih udah biasa keduanya bertemu dibelakang lampu start track 201 meter, namun yang menarik kali ini adalah mereka menggunakan motor yang sama. Nah lho :D

Satria FU bermesin 200cc milik Tomo Speed Shop (TSS) yang menjadi saksi bengisnya kedua rider papan atas Drag Bike Indonesia tersebut. Sementara itu Dwi Batank dan FU Solo yang dinantikan oleh untuk meladeni kedua punggawa TSS itu tak nampak di Seri terakhir gelaran AHRS Drag Bike 2014 ini.

Keduanya mampu mengeksekusi dengan baik aba-aba start dari sensor lampu tanpa ada gejala roda berputar di tempat (spin), tidak juga mengurangi kecepatan yang dibutuhkan pada kondisi lintasan yang mana masih terlihat basah dan ada genangan air disekitar 30 meter selepas start. “Dalam kondisi begini tenaga harus diatur dari slip kopling,” kata Chodox yang diamini Cebonk.

Chodox memang lebih berpengalaman dengan umur sebentar lagi kepala tiga. Di karir Drag Bike kondisi lintasan seperti itu sudah berulang kali ditemuinya. Dibanding Cebonk yang umurnya belum kepala 2. Terlihat jelas dari start, power Chodox lebih besar. Mudah mengamatinya, karena keduanya menggunakan motor yang sama.

Chodox yakin tindakan yang diambilnya. Terlihat 30 meter awal roda depannya masih ngangkat, tanda power masih terus dirawat. Bandingkan dengan Chebonk yang justru lebih hati-hati. Jelas Chodox lebih diunggulkan saat itu karena pengalamannya.

Ternyata memang benar, Chodox yang dijagokan pun berhasil mengguli Chobonk dengan time 7,620 detik disusul Cebonk 7,668 detik. Sebenarnya sampai posisi empat masih mencetak 7.6 detik sekian-sekian. “Memang kondisi lintasan yang masih lembab bikin saya terlalu hati-hati. Kelas ini juga langsung final yang semuanya serba kira-kira” ungkap Cebonk dengan sportif mengakui keunggulan seniornya dengan motor sama.


Photo : maniakmotor

Chebonk didorong Kopling 6 per di Bebek 130 TU




Speed_ID. Final Bebek 130 TU 4T di seri penutup Drag Bike AHRS sudah berlangsung Minggu malam. Toh, Alvan Cebonk tetap maksimal merlarikan motornya di Indramayu, Jabar. Dia juara dengan Jupiter Z milik MBKW2  asuhan Mletiz yang teknisi IndoPrix itu.

Catatan waktunya lumayan tajam 8,285 detik. "Justru malam aspal malah membaik. Bekas hujan dari pagi sampai siang pada Minggu 21 Desember 2014 itu sudah normal. Lagian, kan biasanya para mekanik dan pembalap drag nyeting motor malam-malam bro hehee" ungkapnya.

Menurut Chebonk ia tak melakukan kesalahan dan konsentrasinya sangat baik. Motor juga mau diajak sesuai naluri. *ciee pake hati* :P
“Tarikannya sangat spontan. Antara pergelangan tangan membuka gas dan tenaga pada seperti satu perintah,” kata Chebonk mengandaikan dengan logat Jawa Timur yang kental. Cebonk ditempel ketat oleh Iping Child dari HDR Plat  F Tara Speed yang pakai Yamaha Crypton dengan 8,336 detik.

Cukup tau aja, Jupiter racikan Mletiz memang bekerjasama dengan kopling SYS terkenal dengan teknologi enam pegasnya. Perangkat kopling yang dipercaya bisa mentrasfer semua tenaga mesin yang telah dimodifikasi racing. Kopling ini juga terkenal untuk motor harian yang tanpa mengubah apa-apa langsung terasa bedanya dengan kopling standar. Kalau nggak percaya coba aja beli. hihihii


Jupiter ini juga memakai teknologi terbaru CDI Rextor ProDrag 2. “Makanya walau kompresinya tinggi yang mencapai 14,5:1 akan tetapi pemetaan tenaganya bisa diatur dari CDI. Torsi yang dibutuhkan untuk start bisa disetel dari CDI ini lewat fitur "Launch Control" sesuai dengan bobot Cebonk yang hanya 37 kg. Sedang karbu PWK28 hanya menyesuaikan lewat jarum dan spuyer,” jelas Ajay, wakil Mletiz yang datang ke Indramayu.

Sumber : maniakmotor

Minggu, 14 Desember 2014

All FU Malang di Final Bebek 4T 200cc Time 7.612 Detik




Speed_ID. Duel Suzuki Satria FU karya mekanik Malang terjadi di Bebek 4T 200cc. Di sana, GM Drag Buke Bondowoso pada Minggu 14 Desember ada FU Conk yang dikorek Fauzan Conk dan FU CMT yang dikorek Cak Moed. Di Event yang berlangsung di Jl.A.Yani, Bondowoso, Jatim.

Kali ini FU Conk dan FU CMT yang langganan juara di drag bike TPM, nyatanya harus takluk pada FU DKMS yang digas Chaka Bolo. FU korekan Doni ini menjadi yang tercepat dengan 7,612 detik saat final Bebek 200.

Doni mengaku punya jurus khusus. Tentu jurusnya bukan langkah seribu, tapi pake gerinda dan ampelas yang berulang-ulang agar papasan lobe pada noken-as presisi. "Durasinya dibikin 265o dengan lift in 8,5mm dan out 8,3mm,” kata Doni, mekanik asal Kepanjen, Malang, Jatim.

Itu untuk mengatur keluar-masuk bahan bakar pertamax plus yang dipompa oleh piston LHK diameter 72 mm. Sudah bisa ditebak dengan oktan 95, kompresi cukup 12,8:1. “Dengan kompresi begini, tenaga dari bawah cukup diatur dari pengapian dan knalpot. Tapi motor akan diuntungkan dari jarak 75 meter sampai finish,” analisa Doni dengan mimik juara. Maklum, mampu mengalahkan motor spek jawara.

Sedang karya Mr.Conk yang pakai mesin baru pesanan dari Jakarta itu hanya 7,668 detik di posisi kedua lewat Dadank Japronk. Katanya, itu lumayan dengan spek motor yang baru hidup. Sedang Cak Moed yang hadir di Bondowoso saat ditanya juga mengaku sedang coba-coba ajian lain buat turun tahun depan. Makanya hanya ketiga dengan time 7,719 detik.


Lalu bagaimana dengan FU V-Reinz yang di pengantar kemarin akan melakukan perlawanan?? Sayangnya Jhon PK yang jadi eksekutor harus takluk dengan sensor satu titik alias Jump-start.

Sumber : maniakmotor

Eko Chodox Dipinang 3 Tim, Rp.20jt / Kelas




Speed_ID. Berumur 29 tahun (3 Maret 1985), Eko Sulistyo Chodox tak lagi muda, tapi untuk ukuran segitu masih produktif di trek lurus. Kan lurus doang. Makanya pesona ayah satu putri itu tetap memikat, termasuk 2014  di tengah gempuran joki-joki muda macam Alvan Cebonk (Nganjuk), Adi S Tuyul (Surabaya), dan Hendra Kecil (Magelang).

Di ujung musim 2014 ini, masih menunggu kabar akan berlabuh di tim mana 2015 mendatang. Maklum saja, tahun lalu Chodox catat rekor nilai kontrak tertinggi bersama tim Abirawa (Jakarta). Meski akhirnya di tengah musim malah bubar, Chodox tetap tak patah semangat, loncat terus macam gelasnya si Kodok.

Sambil menuju event di Wonosari, Gunung Kidul, Jogja (14/12) ini, Chodox bercerita soal tahun depan sudah ada pinangan dari tiga tim. “MPK (Pasuruan), Simple Concept (Magelang) dan satu tim asal Semarang yang masih silient yang telah menghubungi,” ungkap Chodox.

Model kontrak di drag bike, bisa saja Chodox main pada tiga  tim itu. Yup, kontraknya dihitung dari kelas yang diikuti, “Minimal sudah ada 6 kelas, per kelas 20 juta-an.  Target kembali juara umum,” yakin Chodox yang masih enggan komentar soal kejurnas drag bike model region. Ya, enggan lantaran belum ada gambaran macam apa, jangan-jangan sama saja dengan sebelumnya. “Tapi kalo memang serius, tim juga support, karena dari mereka dana pembalap bisa ikut semua seri,” kata Chodox.

Selain cerita kontrak, Chodox berharap ada regulasi yang jelas dan tegas. Itu terkait dengan pengakuan catatan waktu . “Time di drag bike itu penting, sangat bergengsi buat  tim, mekanik, pembalapnya, penonton dan event drag bike itu sendiri. Macam mana, bila catatan saat ini masih belang, karena personal timing system yang belum seragam, termasuk di dalamnya jarak tempuh dan peraturan setiap event,” tutup Chodox yang belakangan pun mulai ‘fasih’ dengan sensor 1 titik.


Sumber : maniakmotor

Sabtu, 13 Desember 2014

Ninja Potter ok, Chodox komentar time dibawah 7 detik di solo



Speed_ID. Sport Tune-Up 155 cc di mana saja rame. Macam Ninja korekan Nugroho alias Potter yang meramaikan Honda Dragbike Championship yang di gelar di Jombang, Jatim pada Minggu 7 Desember 2014. Di sana catatan Ninja Poter hanya 7,412 detik lewat Muslih Wuri. Sementara di event lain di Solo, Ninja korekan Yuda Sanjaya dari Kolor Ijo di bawah 7 detik. 

Di di drag bike Jombang memang segitu catatannya, malah itu yang tercepat. Bukan hanya itu, podium dua dan empat juga disikat Ninja MPK Speed itu lewat Galang Rizky (7,466 detik) dan Eko Chodox (7,573 detik). Di kelas sama di drag bike Solo, Jateng, itu nggak ada apa-apanya. Event di Solo ini sedianya di Stadion Manahan, tapi dipindah ke sirkuit Brigif 413 Majobalan, Bekonang, Sukoharjo. Lagi-lagi Ninja Yuda lewat Alvan Cebonk bikin heboh, 6,983 detikya, UWOOOOOW.

Itu artinya Ninja Yuda lebih kencang dong?? "Aah… mana bisa disimpulkan macam itu. Kan banyak faktor yang menentukan. Misalnya model sensor start. Di Jombang ini pake model satu titik. Sedang di Solo masih model biasa. Itu baru model sensor, belum factor lain yang masih banyak variabelnya,” analisa Chodox yang diamini Potter.

Ninja Yuda dan Ninja Potter, sebenarnya barusan ketemu di event TPM beberapa minggu lalu di Delta Mas, Cikarang. Saat itu korekan Potter yang unggul. Tapi di seri sebelumnya di event sama Ninja K-Ijo yang juara. Ya saling mengalahkan laah. Keduanya punya catatan waktu yang tipis-tipis.

Chodox juga sebut selain faktor sensor yang bikin selisih waktu jauh di Solo dan Jombang  soal kondisi sirkuit. Saat final di Jombang kondisinya basah oleh hujan. Sudah barang tentu aspalnya berubah licin meski tekanan angin ban pada roda belakang sudah dikurangi.


Tapi Chodox bilang yang namanya catatan waktu apalagi ke-1 ya harus dihargai. Katanya, itu sudah usaha optimal dari pembalap, mekanik dan tim.

Sumber : maniakmotor
 
Blogger Templates