Minggu, 14 Desember 2014

All FU Malang di Final Bebek 4T 200cc Time 7.612 Detik




Speed_ID. Duel Suzuki Satria FU karya mekanik Malang terjadi di Bebek 4T 200cc. Di sana, GM Drag Buke Bondowoso pada Minggu 14 Desember ada FU Conk yang dikorek Fauzan Conk dan FU CMT yang dikorek Cak Moed. Di Event yang berlangsung di Jl.A.Yani, Bondowoso, Jatim.

Kali ini FU Conk dan FU CMT yang langganan juara di drag bike TPM, nyatanya harus takluk pada FU DKMS yang digas Chaka Bolo. FU korekan Doni ini menjadi yang tercepat dengan 7,612 detik saat final Bebek 200.

Doni mengaku punya jurus khusus. Tentu jurusnya bukan langkah seribu, tapi pake gerinda dan ampelas yang berulang-ulang agar papasan lobe pada noken-as presisi. "Durasinya dibikin 265o dengan lift in 8,5mm dan out 8,3mm,” kata Doni, mekanik asal Kepanjen, Malang, Jatim.

Itu untuk mengatur keluar-masuk bahan bakar pertamax plus yang dipompa oleh piston LHK diameter 72 mm. Sudah bisa ditebak dengan oktan 95, kompresi cukup 12,8:1. “Dengan kompresi begini, tenaga dari bawah cukup diatur dari pengapian dan knalpot. Tapi motor akan diuntungkan dari jarak 75 meter sampai finish,” analisa Doni dengan mimik juara. Maklum, mampu mengalahkan motor spek jawara.

Sedang karya Mr.Conk yang pakai mesin baru pesanan dari Jakarta itu hanya 7,668 detik di posisi kedua lewat Dadank Japronk. Katanya, itu lumayan dengan spek motor yang baru hidup. Sedang Cak Moed yang hadir di Bondowoso saat ditanya juga mengaku sedang coba-coba ajian lain buat turun tahun depan. Makanya hanya ketiga dengan time 7,719 detik.


Lalu bagaimana dengan FU V-Reinz yang di pengantar kemarin akan melakukan perlawanan?? Sayangnya Jhon PK yang jadi eksekutor harus takluk dengan sensor satu titik alias Jump-start.

Sumber : maniakmotor

Eko Chodox Dipinang 3 Tim, Rp.20jt / Kelas




Speed_ID. Berumur 29 tahun (3 Maret 1985), Eko Sulistyo Chodox tak lagi muda, tapi untuk ukuran segitu masih produktif di trek lurus. Kan lurus doang. Makanya pesona ayah satu putri itu tetap memikat, termasuk 2014  di tengah gempuran joki-joki muda macam Alvan Cebonk (Nganjuk), Adi S Tuyul (Surabaya), dan Hendra Kecil (Magelang).

Di ujung musim 2014 ini, masih menunggu kabar akan berlabuh di tim mana 2015 mendatang. Maklum saja, tahun lalu Chodox catat rekor nilai kontrak tertinggi bersama tim Abirawa (Jakarta). Meski akhirnya di tengah musim malah bubar, Chodox tetap tak patah semangat, loncat terus macam gelasnya si Kodok.

Sambil menuju event di Wonosari, Gunung Kidul, Jogja (14/12) ini, Chodox bercerita soal tahun depan sudah ada pinangan dari tiga tim. “MPK (Pasuruan), Simple Concept (Magelang) dan satu tim asal Semarang yang masih silient yang telah menghubungi,” ungkap Chodox.

Model kontrak di drag bike, bisa saja Chodox main pada tiga  tim itu. Yup, kontraknya dihitung dari kelas yang diikuti, “Minimal sudah ada 6 kelas, per kelas 20 juta-an.  Target kembali juara umum,” yakin Chodox yang masih enggan komentar soal kejurnas drag bike model region. Ya, enggan lantaran belum ada gambaran macam apa, jangan-jangan sama saja dengan sebelumnya. “Tapi kalo memang serius, tim juga support, karena dari mereka dana pembalap bisa ikut semua seri,” kata Chodox.

Selain cerita kontrak, Chodox berharap ada regulasi yang jelas dan tegas. Itu terkait dengan pengakuan catatan waktu . “Time di drag bike itu penting, sangat bergengsi buat  tim, mekanik, pembalapnya, penonton dan event drag bike itu sendiri. Macam mana, bila catatan saat ini masih belang, karena personal timing system yang belum seragam, termasuk di dalamnya jarak tempuh dan peraturan setiap event,” tutup Chodox yang belakangan pun mulai ‘fasih’ dengan sensor 1 titik.


Sumber : maniakmotor

Sabtu, 13 Desember 2014

Ninja Potter ok, Chodox komentar time dibawah 7 detik di solo



Speed_ID. Sport Tune-Up 155 cc di mana saja rame. Macam Ninja korekan Nugroho alias Potter yang meramaikan Honda Dragbike Championship yang di gelar di Jombang, Jatim pada Minggu 7 Desember 2014. Di sana catatan Ninja Poter hanya 7,412 detik lewat Muslih Wuri. Sementara di event lain di Solo, Ninja korekan Yuda Sanjaya dari Kolor Ijo di bawah 7 detik. 

Di di drag bike Jombang memang segitu catatannya, malah itu yang tercepat. Bukan hanya itu, podium dua dan empat juga disikat Ninja MPK Speed itu lewat Galang Rizky (7,466 detik) dan Eko Chodox (7,573 detik). Di kelas sama di drag bike Solo, Jateng, itu nggak ada apa-apanya. Event di Solo ini sedianya di Stadion Manahan, tapi dipindah ke sirkuit Brigif 413 Majobalan, Bekonang, Sukoharjo. Lagi-lagi Ninja Yuda lewat Alvan Cebonk bikin heboh, 6,983 detikya, UWOOOOOW.

Itu artinya Ninja Yuda lebih kencang dong?? "Aah… mana bisa disimpulkan macam itu. Kan banyak faktor yang menentukan. Misalnya model sensor start. Di Jombang ini pake model satu titik. Sedang di Solo masih model biasa. Itu baru model sensor, belum factor lain yang masih banyak variabelnya,” analisa Chodox yang diamini Potter.

Ninja Yuda dan Ninja Potter, sebenarnya barusan ketemu di event TPM beberapa minggu lalu di Delta Mas, Cikarang. Saat itu korekan Potter yang unggul. Tapi di seri sebelumnya di event sama Ninja K-Ijo yang juara. Ya saling mengalahkan laah. Keduanya punya catatan waktu yang tipis-tipis.

Chodox juga sebut selain faktor sensor yang bikin selisih waktu jauh di Solo dan Jombang  soal kondisi sirkuit. Saat final di Jombang kondisinya basah oleh hujan. Sudah barang tentu aspalnya berubah licin meski tekanan angin ban pada roda belakang sudah dikurangi.


Tapi Chodox bilang yang namanya catatan waktu apalagi ke-1 ya harus dihargai. Katanya, itu sudah usaha optimal dari pembalap, mekanik dan tim.

Sumber : maniakmotor

Minggu, 23 November 2014

FU Solo 7,5 Detik di Penyisihan Bebek 200cc TU



speed_ID. Dengan bertapa beberapa event dan memperbaiki kinerja finishing korekan Suzuki FU 150 yang sekarang berkapasitas sampai 200cc miliknya, pasukan Abakura kembali memanaskan persaingan kelas 200cc TU. Di penyisihan seri terakhir Pertamina Enduro Drag Bike PEDB, FU Solo korekan Wawan Kristianto yang tunggangi Luluk Ucil menjadi yang tercepat dengan mencetak waktu 7.578 detik.

Dengan menggunakan sensor 1 titik dan penimbangan motornya ketat ini sudah terbilang sangat baik. Walaupun sebelumnya sempat mencatatkan waktu 7.3 sekian-sekian detik di Bantul lalu, toh motor ini masih yang tercepat di penyisihan :D

“Dari spek motor tidak banyak yang berubah. Saya hanya menurunkan kompresi dan menggunakan knalpot baru. Tapi yang paling utama cara saya melakukan finishing modifikasi mesin yang banyak diubah”. Tegas Wawan sembari mewanti catatan yang didapat Luluk saat final.

Spek tidak banyak dirubah dimaksud Wawan adalah, klep dan bahkan karbu masih pakai PWK38 seperti spek lama pada FU ini. Cuma cara pengeerjaan yang lebih teliti akan menghasilkan kinerja yang lebih baik. Hasilnya motor akan lebih kencang dari biasanya. Itu yang dimaksud Wawan mengubah cara kerja lewat finishing korek-mengorek part.

Memang masih penyisihan, tantangan di final juga berat buat Luluk. Maklum dia bersaing dengan motor-motor dan joki-joki yang sudah kaliber memainkan bebek 200cc TU. Lihat saja di hasil lomba yang kedua ditempati Alvan Chebonk yang menggeber FU Kolor Ijo, ketiga adalah Ivan Bangun yang menggunakan motor sama dengan Chebonk Lalu ada Eko Chodox yang naik motor yang sama dengan Luluk alias FU Solo. Selanjutnya lihat hasil final saja. Tutup Wawan.

Sumber : maniakmotor.com

Cupank di Goyang, Chodox Menang




Speed_ID. Tony Cupank joki Drag Bike asal Nganjuk yang sebelum seri Final Pertamina Enduro Drag Bike yang di selenggarakan di Deltamas, Cikarang Jawab pada 22-23 Nov kemarin merupakan pimpinan klasemen sementara, akhirnya mampu digoyang oleh Eko Sulistyo Chodok yang kini meraih gelar juara umum kejuaraan Drag Bike ini.

Dari 3 kelas yang diambil poin yaitu kelas Sport 155 Rangka STD, kelas Bebek 4Tak 200 dan kelas Sport 140 2Tak mereka berdua bersaing ketat sampai di final kelas Sport 2Tak 140cc TU. Eko Chodok yang mampu unggul 5 poin di 2 kelas sebelumnya itu akhirnya mengakhiri event tersebut dengan gelar juaranya.

Tony Cupank pada saat penentuan di Sport 140 TU malah mengalami trouble pada mesinya dan tidak bisa start. Otomatis Eko Sulistyo Chodok yang di kelas Sport TU140 hanya ada di posisi ke-8 ini mampu jadi juara umum dan berhak membawa pulang 4 unit motor yang jadi hadiahnya.

“Saya sangat senang sekali, padahal musim ini saya seperti anak yang hilang karena tim yang mengontrak saya bubar. Dan ini merupakan hasil yang menggembirakan”. tutur Eko Chodok yang mengumpulkan poin 173 sedangkan Tony Cupank hanya meraih 161 poin di akhir kejuaraan tersebut.


Lain halnya dengan Tony Cupang Rider asal Nganjuk yang bernaung di tim JFK TYB K-IJO VND ”Belum rejeki mas, mau bagaimana lagi coba mesinya trouble. Dan kini yang penting saya tetep strong”. Tutup Do’i.

Photo : sportku.com
 
Blogger Templates